Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki curah hujan cukup tinggi di dunia, namun hingga saat ini teknologi dan manajemen pemanfaatan air hujan cenderung terabaikan. Kualitas air hujan di Indonesia sebenarnya relatif bagus karena pencemaran udara yang berasal dari buangan asap organik dan anorganik hanya terjadi di kota-kota besar saja.
Analisis tingkat keasaman air hujan (pH) dapat dijadikan sebagai indikator awal bahwa kualitas air hujan telah tercemar atau belum, misalnya sering kita dengar di suatu wilayah terjadi hujan asam berarti air hujan tersebut telah tercemar oleh tingginya polusi udara di wilayah tersebut. Indikator ini akan menghasilkan pH jauh di bawah pH 7 (pH netral).
Pemanfaatan air hujan secara teknologi boleh dikatakan relatif lebih mudah dalam hal perbaikan kualitas airnya (water treatment), demikian pula secara manajemen sebenarnya tidak begitu rumit. Ringkasnya air hujan diolah kemudian disimpan dalam suatu reservoir (bak penampungan) kemudian pada saat musim kemarau tiba siap untuk didistribusikan secara teratur. Lumbung air hujan akan terasa manfaatnya untuk wilayah yang sering dilanda air bah pada saat musim hujan dan kekurangan air saat musim kemarau, contohnya Jakarta.
Sukabumi, 06 Mei 2012
Ir.Iyus Yusup
Sabtu, 05 Mei 2012
Kamis, 19 April 2012
Metoda Uji Kualitas Air
Dari pengalaman selama ini beragam sekali metoda yang digunakan untuk uji kualitas air, dalam hal ini adalah uji kualitas untuk air bersih dan air minum. Ada yang menggunakan metoda konvensional dengan banyak perhitungan, metoda praktis secara digital dan komputerisasi, dan ada pula metoda komparasi membandingkan berdasarkan warna dari sampel analisis dan sampel blangko(sampel contoh) yang juga cukup praktis.
Kombinasi dari metoda ini sepengetahuan penulis banyak diadopsi dalam metoda SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk uji kualitas air bersih/air minum sebagai salah satu syarat akreditasi suatu laboratorium di Indonesia yang diakui dan berbisnis menerima pengujian sampel dari konsumen. Dan aplikasi dalam ISO 17025 untuk laboratorium yang diakui secara internasional.
Kepada sidang pembaca yang berkunjung ke blog ini, penulis ingin berbagi ilmu, seandainya para pembaca berkeinginan dan berminat untuk memiliki beberapa metoda untuk pengujian kualitas air bersih/air minum dalam suatu bentuk buku silakan ditunggu komentarnya/pesanannya. Buku metoda analisis untuk pengujian kualitas air bersih/minum ini berisi beberapa parameter uji seperti uji fisik (TDS, Kekeruhan dll), uji kimia (Fe, Mn, NO3, NO2, Zat Organik, dll), dan uji Bakteriologi (fecal coli). Metoda-metoda dalam buku pribadi ini, penulis pilih metoda yang cukup praktis sehingga siapapun dapat melakukannya asalkan disiplin mengikuti langkah-langkah prosedur kerjanya, dan agar mahir harus dilakukan secara berulangkali.
Sekali lagi komentarnya ditunggu, atau bisa melalui email: iyusup36@yahoo.com
Sukabumi, 19 April 2012
Ir.Iyus Yusup
Kombinasi dari metoda ini sepengetahuan penulis banyak diadopsi dalam metoda SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk uji kualitas air bersih/air minum sebagai salah satu syarat akreditasi suatu laboratorium di Indonesia yang diakui dan berbisnis menerima pengujian sampel dari konsumen. Dan aplikasi dalam ISO 17025 untuk laboratorium yang diakui secara internasional.
Kepada sidang pembaca yang berkunjung ke blog ini, penulis ingin berbagi ilmu, seandainya para pembaca berkeinginan dan berminat untuk memiliki beberapa metoda untuk pengujian kualitas air bersih/air minum dalam suatu bentuk buku silakan ditunggu komentarnya/pesanannya. Buku metoda analisis untuk pengujian kualitas air bersih/minum ini berisi beberapa parameter uji seperti uji fisik (TDS, Kekeruhan dll), uji kimia (Fe, Mn, NO3, NO2, Zat Organik, dll), dan uji Bakteriologi (fecal coli). Metoda-metoda dalam buku pribadi ini, penulis pilih metoda yang cukup praktis sehingga siapapun dapat melakukannya asalkan disiplin mengikuti langkah-langkah prosedur kerjanya, dan agar mahir harus dilakukan secara berulangkali.
Sekali lagi komentarnya ditunggu, atau bisa melalui email: iyusup36@yahoo.com
Sukabumi, 19 April 2012
Ir.Iyus Yusup
Sabtu, 14 April 2012
Efek Unsur Kimia Di Air
Efek unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam air adalah unsur kimia yang telah melawati ambang batas yang diperbolehkan berdasarkan suatu peraturan yang ditetapkan atau memang sangat berbahaya untuk digunakan secara langsung oleh manusia, baik untuk keperluan rumah tangga atau untuk kebutuhan konsumsi/minum.
Unsur kimia di dalam air jika melebihi ambang batas yang ditetapkan, efeknya terhadap tubuh manusia tidak akan terasa dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan waktu yang lama, tergantung kondisi kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Inipun jika orang tersebut mengkonsumsi dari sumber air yang sama secara rutin, misalnya unsur kimia Besi (Fe), Mangan (Mn), Nitrat (NO3), Nitrit (NO2), Zat Kapur (Kalsium Oksida CaO, Kalsium Karbonat CaCO3, Kalsium Ca, Magnesium Mg), Klorida (Cl), Natrium (Na), dan banyak lagi yang lainnya.
Unsur kimia di dalam air yang mempunyai efek secara langsung terhadap tubuh manusia, tidak tergantung darimana asal sumber air. Unsur kimia yang berbahaya ini dapat terjadi karena faktor disengaja, alami, atau ketidaksengajaan yang akan merubah sifat dan karakter air baik secara fisik maupun kimiawi, dan apabila dimanfaatkan baik untuk minum atau kebutuhan sehari-hari seperti mandi akan menyebabkan efek seketika dari mulai sakit seperi mual, gatal-gatal, kulit bersisik sampai kepada kematian. Unsur tersebut misalnya Arsenik (As), Gas Klor (Cl2), Gas Metan (CH4), Etan (C2H6), Propan (C3H8), Asam Nirat (HNO3), Asam Sulfat (H2SO4), Sulfur (S), Gas Belerang (H2S), dan banyak lagi yang lainnya
Sukabumi, 14 April 2012
Ir.Iyus Yusup
Sabtu, 07 April 2012
Teknik Pengambilan Sampel Air (Sampling)
Dari beberapa pengalaman yang sering didapatkan, hampir semua sampel air yang akan di bawa ke Laboratorium Kualitas Air untuk dilakukan pemeriksaan kualitas airnya, ternyata dalam hal cara pengambian sampel airnya boleh dikatakan belum mewakili (representative) dan tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji analisis di laboratorium.
Bagi seorang analis laboratorium, teknik/cara pengambilan sampel air tentu sangat menentukan hasil akurasi analisisnya, karena akan menyimpulkan apakah kualitas air ini memenuhi syarat atau tidak untuk digunakan sebagai air bersih atau air minum. Boleh jadi yang seharusnya memenuhi syarat, disimpulkan tidak memenuhi syarat atau sebaliknya.
Teknik pengambilan sampel air (sampling) dapat dibagi menjadi:
1.Sampling air untuk uji fisik (bau, warna, endapan, kekeruhan, TDS)
2.Sampling air untuk uji kimia (semua unsur kimia)
3.Sampling air untuk uji mikrobiologi (terutama bakteri patogen)
Keakurasian hasil analisis dari Sampling air ini dapat dipengaruhi oleh kebersihan/kesterilan botol sampel, kepiawaian petugas sampling (terlatih), sarana dan prasarana laboratorium, serta keahlian analis laboratorium dalam hal menguasai prosedural kerja.
Sukabumi, 08 April 2012
Ir.Iyus Yusup
Minggu, 25 Maret 2012
Limbah Nuklir Di Air
Masih ingat
dalam memori kita setahun yang lalu, pada Jum’at 11 Maret 2011 seluruh
masyarakat di belahan dunia dikagetkan oleh musibah gelombang tsunami sangat
dahsyat yang terjadi di Jepang yang diawali gempa dengan kekuatan sangat besar
9,8 skala Richter, imbasnya kita tahu kota-kota yang berdekatan dengan pesisisr
pantai hancur lebur berantakan.
Yang sangat
membuat cemas warga Jepang maupun dunia, ternyata di sekitar lokasi kejadian
tsunami terdapat beberapa instalasi nuklir yang juga goyah akibat gerakan gempa
dan terjangan gelombang tsunami. Instalasi nuklir dikabarkan kemungkinan
terjadi kebocoran!
Dapat kita
bayangkan seandainya efek bocor instalasi nuklir Jepang terhadap lingkungan
sekitar jika tidak segera ditangani, bukan saja udara dan tanah yang akan
tercemar, kemungkinan besar sumber-sumber air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari juga akan tercemar radiasi nuklir!
Radiasi nuklir
yang dapat menghasilkan radioaktif, ternyata bukan hanya unsur dari Uranium (U)
saja yang umum banyak diketahui masyarakat, tapi unsur Radium (Ra) dan Radon
(Rn) juga termasuk elemen pendukung suatu reactor nuklir, dapat juga mencemari
sumber-sumber air.
Unsur Radium
(Ra) dapat pula dihasilkan dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, yang akan
mengeluarkan radioaktif Radium 228 dan Radium 226. Radium 228 berupa gelombang
partikel Alpha dan Betha, sedangkan
Radium 226 berupa gelombang partikel Alpha saja, jika terbawa aliran air
kemudian masuk ke dalam aliran sungai, maka sungai tersebut sama saja akan
tercemar limbah nuklir.
Sedangkan
unsur Radon (Rn) secara alami terjadi dari adanya gas radioaktif, gas
radioaktif ini selain dapat dihasilkan dari buangan sampah radioaktif Uranium
(U) yang berasal dari instalasi nuklir, dapat pula dihasilkan dari dalam tanah
dan sumber air bawah tanah yang formasi bebatuannya dominan. Bebatuan
inilah umumnya mengandung Uranium.
Tingkat keasaman (pH) air akan stabil jika suatu sumber air mengandung Uranium.
Efek
radioaktif yang dihasilkan Radon yang masih larut di dalam tanah, lebih ringan
bahayanya dibandingkan Radon yang telah terbentuk gas yang berada di dalam
suatu ruangan seperti rumah dan gedung perkantoran. Dalam hitungan menit Radon
di dalam suatu ruangan akan mengalami akumulasi ke tingkat radiasi yang semakin
tinggi dan akan membayahakan kesehatan
manusia di dalamnya, karena limbah Radon ini tidak terlihat, terasa, dan
tercium indra manusia, dan akan menembus dan menempel di lantai dan dinding rumah
atau gedung perkantoran, pada akhirnya akan mencemari air yang rutin setiap hari digunakan untuk keperluan
sehari-hari.
Bagaimana caranya agar kita tahu, bahwa air yang kita gunakan
sehari-hari tetelah tercemar limbah radioaktif? Jawabnya air tersebut harus
dilakukan analisis secara teliti dengan metoda Artificial Radionuklide, yaitu suatu alat ukur untuk mendeteksi
adanya bocoran, keterpaparan, dan cemaran limbah radioaktif. Pengukuran radiasi
nuklir ini sesungguhnya wajib dilakukan oleh lembaga berwenang terhadap
industri/pabrik, tempat pembuangan akhir sampah, Rumah Sakit, dan
stasion-stasion instalasi dan instansi yang menggunakan energi nuklir.
Telah dimuat di koran "Radar Sukabumi" 16/03/2012
Ir.Iyus Yusup
Kamis, 01 Maret 2012
Treatment: Air Laut menjadi Air Siap Minum
Memang bila semakin kecil kandungan TDS di dalam air (H2O), maka kualitas air akan semakin bagus pula dari sisi kandungan zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, namun bila TDS di dalam air minum ini sangat minim bahkan mencapai nol, boleh jadi khasiat air minum ini dari segi gizi kimianya yang manfaatnya banyak untuk tubuh manusia juga menjadi tidak ada. Produk air minum ini hanya toh air untuk diminum saja, hanya bergfungsi untuk penggantian kandungan air yang terbuang (air seni, keringat, dsb) dari tubuh manusia (rehidration).
Meski produk air minum yang mempunyai TDS minim bahkan mencapai nol ini hanya sebagai rehidration bagi tubuh manusia, namun bila dibandingkan dalam hal kualitas dengan sumber-sumber air (air sumur, air kali, dsb) yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kita, bolehlah air minum ini mempunyai kualitas air di atas rara-rata, karena umumnya bebas dari jasad mikroorganime (bakteri, virus, jamur, dsb).
Mampukah kita menurunkan bahkan menghilangkan kandungan TDS air laut yang tak terkira jumlahnya menjadi air siap minum yang mempunyai kandungan TDS minim bahkan mencapai nol?
Ternyata teknologi air mampu menjawabnya, seorang berkebangsaan Jerman telah menemukan sebuah filter fermeator, itu kurang lebih 20 tahun yang lalu. Filter fermeator ini berisi filamen-filamen yang berfungsi memisahkan TDS dari kandungan airnya, sehingga air ini menjadi jernih, bersih, dan tidak berasa! Hingga kini Teknologi filter fermiator ini telah banyak dimanfaatkan oleh ribuan pengusaha yang bergerak di bidang produk air minum.
Sukabumi, 01 Maret 2012
Ir.Iyus Yusup
Sabtu, 04 Februari 2012
Pencucian Instalasi Air/Washing of Water Instalation
Unit-unit yang dapat dimasukan kedalam kategori instalasi air adalah bisa unit-unit proses pengolahan air seperti bak sedimentasi( penggumpalan), bak filtrasi (penyaringan), jaringan perpipaan air, tandon/reservoir air, dan bisa juga bak kamar mandi, torn air, galon air, atau perpipaan air yang biasa ada di dalam rumah tangga.
Dalam hal pencucian instalasi air, di dalam forum ini penulis akan berbagi informasi bahwa untuk pancucian instalasi air ini ternyata tidak boleh sembarangan menggunakan bahan pencuci, seperti misalnya sabun atau detergen, atau produk berbahan kimia berupa macam-macam desifektan yang banyak dijual di pasaran.
Pengalaman penulis selama ini selalu memanfaatkan zat kaporit teknis (bukan analitis) dengan konsentrasi diatas 10% CaOCl2 (berat/berat) atau NaOCl (volume/volume), khusus dijual di toko kimia atau apotek. Sifat kaporit ini selain desinfektan (membunuh mahluk renik) di dalam air, juga dapat berfungsi menghambat bahkan menghentikan pertumbuhan semacam ganggang dan lumut di dalam suatu instalasi air.
Metoda pengerjaannya digunakan teknik pengenceran sehingga konsentrasi yang didapatkan antara 0,2 s.d. 0,5 miligram/liter. Seperti diketahui ternyata dengan takaran konsentrasi tersebut yang dilarutkan ke dalam air, mikroorganisme dan jasad renik yang ada di dalam air akan mati. Bolehlah saya gambarkan satu contoh adalah torn air yang ada di rumah dengan kapasitas isi penuh 250 liter, maka jumlah kaporit yang harus kita tambahkan adalah 50 mg dalam 250 liter air untuk konsentrasi 0,2 mg/l seandainya perlakuan pencucian sering dilakukan secara rutin seminggu 3 kali. Tapi seandainya jarang dilakukan pencucian atau kondisi di dalam dinding torn melekat ganggang atau lumut atau polutan lain sangat kotor, maka jumlah kaporit yang ditambahkan 125 mg kaporit dalam 250 liter air untuk konsentrasi 0,5 mg/l.
Diamkan selama 24 s.d. 48 jam air torn yang berisi larutan kaporit tersebut, zat pengotor pada dinding torn akan rontok, baru setelah itu buang dan lakukan proses pembilasan dengan air bersih sampai dinding dan dasar torn menjadi bersih. Demikian prinsip proses Washing of water instalation yang penulis gambarkan disini, dan pada prinsipnya sama untuk perlakuan pengerjaan pada unit-unit yang dapat dikategorikan instalasi air.
Sukabumi, 04 Pebruari 2012
Ir.Iyus Yusup
Langganan:
Postingan (Atom)